Singapura – Transformasi industri berbasis Artificial Intelligence (AI) menjadi sorotan utama dalam Global AI+IoT Ecology Summit 2026 yang digelar di Pan Pacific Singapore, pada Rabu, 29 April 2026. Dalam forum internasional tersebut, President Director & CEO PT Nawakara Perkasa Nusantara, Dino B. Hindarto, S.T., ICPS, hadir sebagai keynote speaker dan menyampaikan pandangan strategis mengenai dampak AI terhadap industri serta kesiapan Indonesia menghadapi perubahan tersebut.
Acara yang diselenggarakan oleh Zhejiang Entrepreneurs Center ini mempertemukan para pemimpin industri, pakar AI+IoT, serta lebih dari 300 perwakilan bisnis dari berbagai negara untuk membahas perkembangan teknologi dan implementasinya di sektor industri, termasuk keamanan, manufaktur, dan layanan digital.
Dalam pidatonya bertajuk “AI Impact on Our Industry and How Indonesia Prepares for the Challenge”, Dino menegaskan bahwa dunia saat ini berada pada titik transformasi besar yang setara dengan revolusi listrik dan internet. Menurutnya, AI bukan lagi sekadar konsep masa depan, melainkan telah menjadi kekuatan nyata yang mengubah cara bisnis beroperasi, mengambil keputusan, hingga menciptakan nilai.
“AI memungkinkan kita beralih dari sistem kerja yang reaktif menjadi prediktif dan preventif. Ini mengubah cara kita mengelola risiko, meningkatkan efisiensi operasional, serta memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik,” ujar Dino.
Ia menjelaskan bahwa dalam industri, khususnya sektor keamanan dan layanan, AI berperan penting dalam meningkatkan akurasi analisis, otomatisasi proses, hingga optimalisasi produktivitas. Pekerjaan yang bersifat repetitif kini mulai digantikan oleh mesin, sehingga sumber daya manusia dapat difokuskan pada fungsi strategis seperti pengambilan keputusan, kepemimpinan, dan interaksi manusia.
Namun demikian, Dino menekankan bahwa transformasi ini tidak semata-mata soal teknologi, melainkan juga kesiapan manusia. “AI tidak menggantikan kepemimpinan, etika, dan tanggung jawab. Justru AI memperkuat peran mereka yang siap, dan menjadi tantangan bagi yang tidak siap,” tegasnya.
Menjawab tantangan tersebut, Dino memaparkan empat pilar utama kesiapan Indonesia dalam menghadapi era AI. Pertama, Indonesia memiliki keunggulan demografis dengan populasi muda yang adaptif terhadap teknologi digital. Kedua, peningkatan literasi AI dan program reskilling tenaga kerja mulai digalakkan melalui kolaborasi antara institusi pendidikan dan sektor industri.
Ketiga, penguatan ekosistem digital terus berkembang, ditandai dengan pertumbuhan infrastruktur cloud, pusat data, startup, serta pusat inovasi yang memungkinkan akses teknologi lebih luas, termasuk bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Keempat, aspek regulasi dan tata kelola mulai diperkuat untuk memastikan penggunaan AI yang etis, aman, dan bertanggung jawab, khususnya terkait privasi data dan keamanan siber.
Lebih lanjut, Dino mengingatkan bahwa keberhasilan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecepatan adopsi teknologi, tetapi juga oleh kebijaksanaan dalam pemanfaatannya. AI, menurutnya, harus mampu mendorong pertumbuhan inklusif, meningkatkan ketahanan industri, serta memperkuat daya saing di tingkat regional dan global.
“AI bukan ancaman bagi industri kita. Yang menjadi ancaman adalah sikap terlena. Jika kita mampu menggabungkan teknologi dengan talenta, inovasi dengan etika, serta kecepatan dengan tujuan yang jelas, Indonesia tidak hanya akan beradaptasi tetapi juga memimpin di era AI,” ungkap Dino.
Partisipasi Nawakara dalam forum global ini sekaligus menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong inovasi keamanan berbasis teknologi serta memperkuat kolaborasi internasional, khususnya di kawasan Asia Tenggara.
Melalui momentum ini, Indonesia diharapkan dapat terus mempercepat transformasi digital secara strategis dan berkelanjutan, menjadikan AI sebagai enabler utama dalam membangun masa depan industri yang lebih cerdas, aman, dan kompetitif.